Jakarta, CNBC Indonesia – Saham-saham teknologi di bursa Amerika Serikat (AS) dinilai sudah membentuk “gelembung” ( bubble ). Namun kali ini, gelembung diperkirakan belum akan pecah dalam waktu depan.

Hari ini (7/9/2020), bursa AS pusat libur lumayan panjang untuk mengingat Hari Pekerja. Jelang akhir pekan lalu, bursa terbesar di dunia ini mengalami koreksi dua hari  berturut-turut, dengan indeks saham zona teknologi di S& P 500 anjlok lebih dari 4% di sepekan.

“Saya pikir kita jelas-jelas berada di teritori gelembung, ” tutur Jonathan Bell, Kepala Investasi Stanhope Capital, kepada CNBC International . “Anda menemui kemeriahan pada sangat sedikit bagian. Itu jelas teritori bubble , ” tuturnya.  


Saat ini, lima saham raksasa sektor teknologi AS memiliki bobot hingga 20% dari bursa saham AS, dan menyumbang 12% indeks MSCI World.

Bell menilai ada banyak alasan bagi investor untuk membeli saham Alphabet (induk usaha Google), Amazon, Apple, Microsoft dan Facebook, menyusul kinerja itu yang melampaui rata-rata di sedang pandemi.

“Bukan berarti bisnis mereka bukanlah bisnis yang bagus yang mampu bertahan. Ini hanya soal kemeriahannya saja yang terkait dengan mereka, ” tutur Bell. Saham Amazon telah terbang 78% tahun ini, disusul saham Apple (65%), Netflix (59%), Facebook (38%), dan Alphabet (19%).

Namun terkait dengan kapan gelembung saham teknologi tersebut meletus, Bell membandingkan situasi sekarang dengan catatan mantan bos Federal Reserve Alan Greenspan pada 1996, yang mengutarakan ada tanda “kemeriahan irasional” pada pasar keuangan. Saat itu, bukannya meletus, bursa saham AS justru terus menguat.

“Saya akan bilang ke mereka bahwa ini adalah daerah seperti-gelembung, tapi bukan berarti bakal mengempis segera sekarang. Apa dengan kita lihat pekan lalu hanyalah relaksasi di tengah kenaikan perut pekan sebelumnya, ” tutur Bell.

Tempat menilai ada banyak alasan buat memegang saham tersebut, tetapi langgeng harus berhati-hati. “Jika anda mempunyai 15% atau 20% dan menilai sahamnya akan menguat maka memonitor terus, tetapi jika punya 30% atau 40% portofolio di sana, maka anda dibayangi risiko besar. ”

Sebelumnya, beberapa pelaku pasar menilai aksi jual saham teknologi pekan lalu merupakan sinyal tanda naas, dan memicu kekhawatiran bahwa saham teknologi sudah membentuk gelembung yang menunggu untuk meletus.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(ags/ags)