Jakarta, CNBC Indonesia –  Hari pertama penerapan PSBB  (bukan) total di DKI Jakarta cukup membuat pasar keuangan pribumi sumringah. Meski ada pengetatan, PSBB  kali ini tak jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Aktivitas ekonomi ibu kota pun tetap mampu berjalan dan pasar merespons nyata kebijakan ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melompat 2, 89%. Saham-saham di daerah properti, real estate dan konstruksi memimpin penguatan dengan apresiasi enam, 47% dan disusul oleh indeks sektoral industri dasar dan kimia yang naik 4, 28%.


Nilai pembicaraan yang tercatat pada perdagangan kemarin mencapai Rp 9, 7 triliun. Namun ‘asing’ masih jaga jarak dengan pasar modal RI. Hal ini tercermin dari aksi jual bersih ( net sell ) yang mencapai Rp 478, 14 miliar di seluruh pasar.

Di rekan surat utang negara (SUN), tren pelemahan obligasi pemerintah pun berbalik arah. Hampir semua surat berharga negara (SBN) berbagai tenor mengalami penurunan imbal hasil ( yield ).

Yield , obligasi rupiah pemerintah RI bertenor  10 tahun yang digunakan sebagai acuan menikmati pelemahan sebesar 2, 7 dasar poin ke level 6, 947%.

Berbeda dengan bagian dan obligasi, nilai tukar rupiah justru  stagnan di hadapan dolar AS kemarin. Di arena pasar spot, untuk US$ 1 dibanderol di Rp 14. 860.

Rabu (9/9/2020), Gubernur DKI  Jakarta Anies  Rasyid  Baswedan  secara tiba-tiba memberikan penjelasan yang menggegerkan publik.

Anies  mengumumkan bahwa dirinya bakal mengambil kebijakan rem darurat dengan memberlakukan PSBB  total sebagai wujud upaya untuk mengendalikan wabah Covid-19 di Jakarta yang mengkhawatirkan.

Keesokan harinya bursa bagian RI kebakaran hebat. Saham-saham dilego oleh para investor. Indeks jatuh 5% lebih dan otoritas bursa kembali menerapkan trading halt selama 30 menit.

Memasuki bulan kesembilan tahun ini, nilai tukar rupiah melawan the greenback  terus melemah. Petunjuk tersebut juga dibarengi dengan kemajuan yield obligasi pemerintah RI tenor 10 tahun.

Kinerja rupiah dan SBN  RI yang langsung tertekan tak lepas dari  dilepasnya  surat utang pemerintah oleh investor asing, sebagaimana diungkapkan oleh  Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah.

BI sendiri mencatat, premi Credit Default Swaps  (CDS) Indonesia 5 tahun naik ke 91, 36 bps per 10 September 2020 dari 86, 71 bps per 4 September 2020.  

Berdasarkan petunjuk transaksi 7-10 September 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp0, 50 triliun, dengan jual neto di pasar saham sebesar Rp2, 37 triliun serta beli neto di pasar SBN sebesar Rp1, 87 triliun.

Berdasarkan data setelmen selama 2020 (ytd), nonresiden di rekan keuangan domestik jual neto Rp153, 29 triliun.