Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia membuka peluang untuk mengimpor daging ayam di dalam beberapa waktu ke ajaran. Penyebabnya bukan karena kejelekan stok di dalam negeri, melainkan ada kewajiban daripada Indonesia untuk memenuhi tuntutan setelah kalah gugatan dari Brasil di Organisasi Perniagaan Dunia (WTO).

“Pemerintah tidak berencana impor daging ayam, tapi ada ancaman daging Brasil karena kita kalah di WTO, ” kata Ketua Ijmal Perhimpunan Insan Perunggasan Kaum (Pinsar) Singgih Januratmoko kepada CNBC Nusantara, Jumat (23/4/21).

Kondisi ini sangat pelik, sebab gaya saing industri perunggasan  Nusantara sangat lemah. Harga warga yang tinggi dipicu dari pakan yang tinggi jadi sebabnya.


Direktur Jenderal Perdagangan Pada Negeri (PDN) Kemendag Syailendra sudah mengingatkan bahwa pukulan impor itu tidak membuat-buat. Karenanya, peternak harus bisa menekan harga ayam dengan mengefisiensi  harga pakan ternak.

“Untuk persiapan perang yang lebih besar, saya telah sampaikan walau terkejut-kejut. Kalau kita nggak bisa tepat dan bahan baku serupa nggak bisa kita pastikan, ekstremnya itu, mungkin hamba dianggap nyeleneh, impor saja pakan kalau produksi bertambah mahal (dengan pakan lokal), tapi dampak ke petani dan industri pakan serupa apa, kalau cari fasilitas begitu aja cari dengan termurah, tapi ngga gitu juga, ” katanya dikutip dari YouTube Pataka Chanel FGD: “Harga Jagung Melambung” Jumat (23/4/21).

Adapun harga pakan besar sekitar 70% pada ongkos produksi dari tumbuhnya mandung secara keseluruhan. Tidak kurang, karenanya perlu ada langkah efisien. “Kontribusi pakan tersebut cukup besar terhadap hasil produksi baik boiler maupun layer. Pakan kontribusi terbesarnya dari jagung, ” logat Syailendra.

Ia pun mengajak semua bagian untuk mempersiapkan persoalan teknis di dalam negeri dengan baik, mempersiapkan diri pra ada serangan dari luar, yakni ayam Brasil.

“Yang di ajaran pintu kita sudah bersetuju masuk mau menerobos, tersebut yang harus dijaga. Teman-teman di bagian perundingan perdagangan internasional itu wanti-wanti tetap dengan saya, kita lahannya udah setengah mati. Ini tinggal nunggu banding-banding aja dari Amerika, udah terlihat gejalanya kalah, kalau kecundang kan repot bisa langsung masuk cepat, saya ingin semuanya bersama-sama ini masalah besar, ” jelas Syailendra.

Persoalan ini bermula ketika Indonesia Nusantara sempat kalah dari gugatan Brasil yang didaftarkan ke WTO pada 2014 berarakan. Di dalam gugatan tersebut, Brasil mengeluhkan penerapan peraturan tak tertulis oleh Indonesia yang dianggap menghambat ekspor ayam Brasil ke Indonesia sejak 2009 silam.

Tiga tahun berikutnya, Indonesia diputuskan bersalah karena tidak mematuhi empat keyakinan WTO. Pertama, yakni daftar impor Indonesia disebut tidak sesuai dengan Artikel XI dan XX GATT 1994.

Kedua, persyaratan penggunaan produk impor tak konsisten dengan Artikel XI dan Artikel XX. Ketiga, prosedur perizinan impor, utamanya dalam hal pembatasan kurun jendela permohonan dan persyaratan pencantuman tetap data jenis, jumlah produk, dan pangkalan masuk, serta asal negeri tidak konsisten dengan Tulisan X dan XX.

Keempat, penundaan jalan persetujuan sertifikat kesehatan veteriner melanggar Article 8 & Annex C (1) (a) SPS agreement.

Indonesia harus mengubah keyakinan impornya. Pemerintah pun mengakomodasi dengan mengubah dua petunjuk, yakni Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 65 Tahun 2018 tentang Ketentuan Ekspor serta Impor Hewan dan buatan Hewan serta Peraturan Gajah Pertanian Nomor 23 Tahun 2018 tentang Pemasukan Karkas, Daging, Jeroan, dan Olahannya ke Dalam Wilayah NKRI.

Namun, Brasil tetap tidak puas secara perlakuan Indonesia. Pada Juni lalu, Brasil mengatakan Indonesia masih menghalang-halangi ekspor warga ayamnya ke Indonesia secara menunda sertifikasi kebersihan serta produk halal.

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)