Jakarta, CNBC Indonesia –  Ekonomi Arab Saudi menyusut 7% pada kuartal II (Q2) 2020 secara basis tahunan (YoY). Menurut data resmi yang dirilis Rabu (30/9/2020), angka tersebut akibat pandemi virus corona (Covid-19) yang telah mengganggu sumber penerimaan negara, baik di sektor minyak maupun non-minyak.

Pandemi telah menyebabkan permintaan minyak mentah global turun tajam. Selain tersebut, langkah pembatasan aktivitas untuk menyekat penyebaran wabah, juga telah membuat aktivitas domestik terganggu.


“Sektor swasta & sektor pemerintah mencatat tingkat kemajuan negatif masing-masing 10, 1% & 3, 5%, ” kata Badan Statistik Umum negara eksportir patra terbesar di dunia itu.

Ini menyebabkan kerajaan merembes ke dalam jurang resesi. Resesi bisa diartikan sebagai menurunnya kesibukan ekonomi suatu negara dua kuartal atau lebih berturut-turut dalam mulia tahun.

Sebelumnya di dalam kuartal pertama, Arab Saudi membukukan kontraksi ekonomi 1%. Saat tersebut, sektor perminyakan menyusut sebesar 4, 6%, sedangkan sektor nonmigas mengagendakan pertumbuhan positif sebesar 1, 6%.

“Tidak ada kejutan dalam kecepatan penurunan (aktivitas ekonomi). Pendapatan Domestik Bruto (PDB) non-minyak akan terpukul bertambah keras dengan penguncian. Kontraksi minyak malah sebagian dibatasi oleh peningkatan produksi minyak pada bulan April, ” kata Monica Malik, besar ekonom di Bank Komersial Tepung Dhabi menanggapi ekonomi Arab Saudi.

“Yang lebih istimewa adalah dampak berkelanjutan dari Covid dan harga minyak yang tetap rendah. Penghematan dan pengetatan fiskal akan mengakibatkan melemahnya latar perempuan ekonomi domestik dan lemahnya prospek penciptaan lapangan kerja sektor preman bagi warga negara, ” katanya.

[Gambas:Video CNBC]
(res/sef)