Jakarta, CNBC Indonesia –  Teori konspirasi mengenai kudeta petahana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada presiden terpilih Joe Biden menyeruak. Ada yang memandang jika Trump kini sedang mengatur strategi untuk menggagalkan saingan politiknya itu melaju ke Gedung Putih.

Sebelumnya, pengusaha yang diusung Partai Republik itu memang terang-terangan tidak menerima hasil perhitungan cepat bahwa dirinya kalah daripada Wakil Presiden Barrack Obama itu. Ia bahkan berulang kali mencuit “Pemilihan yang Dicurangi! “.


Namun keluhan Trump dianggap tidak masuk tepat. Sepanjang AS menggelar Pilpres, tak ada satu pun petahana yang mencurigai kemenangan lawannya atau menentang menyerahkan kursi presiden.

Sejauh ini hanya Trump dengan bersikap seperti itu. Namun kok teori ini muncul?

Hal ini terjadi pasca Trump memecat Mark Esper sebagai Menteri Pertahanan AS dan bos Pentagon awal pekan ini. Ia menggantinya dan mengisi Pentagon dengan para pengikutnya yang loyal.

Posisi Menteri Pertahanan kini dipimpin oleh Christopher Charles Miller. Ia, yang sebelumnya merupakan direktur National Counterterrorism Center, dicap sebagai loyalis Trump garis keras.

“Dalam 24 jam terakhir, Menteri Pertahanan, Wakil Menteri Pertahanan buat Kebijakan dan Wakil Menteri Pertahanan untuk Intell telah dipecat… Kok? ” tweet Alexander Vindman, purnawirawan perwira militer dan mantan staf Gedung Putih yang dipecat sesudah bersaksi melawan Trump selama pemakzulan 2019, dikutip dari AFP .

Alarm juga berbunyi ketika Jaksa Istimewa Trump, Bill Barr, memberi wewenang kepada jaksa federal untuk berbaur dengan pencarian Trump atas penyimpangan pilpres.

“(Barr) menyetujui departemen untuk dipersenjatai untuk mencoba membatalkan hasil pemilihan ini, ” tulis mantan pengacara senior Pentagon Ryan Goodman dan Andrew Weissmann, yang merupakan bagian dari tim penasihat khusus yang menyelidiki hubungan Trump dengan Rusia, pada jalan The Washington Post.

Dalam skenario yang paling ekstrim, banyak orang memperingatkan tentang kudeta di dalam Electoral College. Ini merupakan pranata paling simbolis yang terdiri lantaran perwakilan yang dikirim dari pada setiap negara bagian untuk memilih kepala berdasarkan suara rakyat.

Selain itu, Menteri Luar Daerah MikePompeo juga menolak kemenangan Biden. Ia mengatakan bahwa pemerintah padahal mempersiapkan masa jabatan Trump ke-2.

“Akan ada pertukaran mulus ke pemerintahan Trump kedua, ” kata Pompeo dalam konferensi pers.

“Dunia kudu yakin bahwa transisi yang diperlukan untuk memastikan bahwa Departemen Asing Negeri berfungsi hari ini… dengan presiden yang menjabat pada 20 Januari satu menit setelah pelantikan akan berhasil. ”

Di sisi lain, ada teori yang berpendapat berbeda. Trump hanya tidak rela meninggalkan panggung, pokok ia senang menjadi pusat menjawab banyak orang, di mama dia mendapat 72 juta suara serta basis penggemar yang besar & setia.

Selain memasang sirkus politik, Trump mungkin mempunyai tujuan yang lebih pribadi: era depan keuangan dan kariernya. Di usia 74 tahun, Trump memiliki basis data informasi pemilih dengan sangat besar dan memiliki pilihan selain diam-diam mengatur perpustakaan kepresidenan.

Bahkan dalam email massal “Dana Pertahanan Pemilu Resmi” Trump dijelaskan jika sumbangan tidak hanya digunakan untuk memerangi “sayap kiri”. Sebagian besar sedang diarahkan untuk melunasi utang kampanye Trump tahun 2020 atau bahkan meluncurkan kemungkinan pencalonan presiden baru pada tahun 2024.

(sef/sef)