Jakarta, CNBC Indonesia – Kebijakan  pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi yang akan mulai berlaku di Jakarta berangkat Senin (12/10/2020) dinilai tidak tepat. Sebab, penambahan kasus harian  Covid-19 di Jakarta masih tinggi.

“Jadi menurut saya, PSBB transisi mungkin nggak tepat bakal DKI. Harusnya PSBB (ketat) dilanjutkan atau paling tidak lokal, ” ujar epidemiolog dari Universitas Nusantara Tri Yunis Miko Wahyono kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Minggu (11/10/2020).

Apalagi, lanjutnya, DKI Jakarta harus menunggu angka pasti pertambahan kasus akibat demo menolak pengesahan UU Cipta Kegiatan yang terjadi pekan lalu. Pokok, jika ternyata ada kenaikan urusan akibat demo, maka akan berpengaruh terhadap pelayanan RS di Jakarta.

“Kalau kenaikan peristiwa akibat demo naik 2X lipat, DKI Jakarta akan penuh pelayanan, ” katanya.

Menurut nya, partisipasi masyarakat pada PSBB saksama lalu tergolong kurang dan semakin menurun pada PSBB tahap besar. Perkiraannya, pada PSBB tahap dua, hanya 30% masyarakat yang tetap berada di rumah. 


“Edisi dua (pengetatan PSBB) dilanjutkan dua kali, nggak berhasil. Kasusnya masih banyak, positivity rate-nya masih tinggi, ” ujar Anies.

Di sisi lain, kalangan pengusaha merespons positif kebijaksanaan Anies. Selain pengusaha hotel serta restoran, sambutan positif juga disampaikan pengusaha ritel.

Federasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berharap PSBB dengan skema transisi bisa menaikkan jumlah pengunjung mall dalam Jakarta. Dengan demikian maka hendak meningkatkan belanja ritel juga.


Adapun dalam PSBB Transisi ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperbolehkan mall atau sentral perbelanjaan di Jakarta buka dari pukul 10. 00-21. 00 WIB. Jam operasional ini hampir serupa seperti sebelum ada pandemi Covid-19.


Tidak hanya itu, restoran dan pertokoan ritel hingga bioskop juga diperbolehkan buka dari pagi hingga jam 21. 00 WIB. Ini tentunya memberikan angin segar bagi para peritel.


”Bila sudah bisa buka resto, maka diharapkan dengan meningkatnya kunjungan masyarakat, oleh karena itu ritel modern akan mulai bergeliat kembali seperti di bulan Juli lalu, ” ujar Ketua Umum Aprindo Roy Mande kepada CNBC Indonesia, Minggu (11/10/2020).

Menuru dia, peningkatan penjualan ritel akan terlihat jika kunjungan bangsa ke pusat perbelanjaan juga menyusun.

“Tempat-tempat itu (Resto, Cafe, Bioskop & Family Entertainment) yang akan membawa masyarakat balik datang ke ritel dan mall, ” kata Roy.

Dari dokumen pengaturan PSBB Pergantian yang dikutip CNBC Indonesia, Minggu (11/10/2020), ada beberapa persyaratan serta protokol kesehatan yang harus dilakukan mall dalam masa ini.

Pertama, jumlah pengunjung mall atau pusat perbelanjaan maksimal cuma 50% dari kapasitas sebelum terjadinya PSBB. Kedua, mall harus melakukan pendataan pengunjung dengan buku tamu atau sistem teknologi yang pantas.

Untuk mall serta pusat perbelanjaan ini, masa PSBB transisi bisa langsung diterapkan. Berarti, mulai besok semua mall dalam Jakarta bisa buka dengan biasa.

(miq/miq)