Jakarta, CNBC Indonesia – Satu pernyataan mendasar saat pemerintah yakin bahwa UU Omnibus Law Cipta Kerja bisa menjadi pengungkit daya saing dan menahan penciptaan lapangan kerja, apakah investor benar-benar happy dengan UU tersebut?

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bagian Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengklaim sejumlah investor, baik sejak dalam maupun luar negeri sudah siap masuk ke Indonesia setelah disahkannya Undang-Undang Cipta Kerja.

Ia menyebut UU Sapu Jagat tersebut sudah lama dinanti oleh investor untuk bisa hadir ke dalam pasar Indonesia. Apalagi di tengah lesunya perekonomian akibat pandemi Covid-19.


“Orang banyak bertanya Covid-19 ini seperti apa, kenapa Covid-19 UU (lama) kok tetap ustaz? Justru dengan Covid-19 ini, kita kan harus semakin kompetitif, bisa berdaya saing. Sekarang ini investor yang mau masuk kan berkurang. Jadi kita harus pastikan mereka masuknya ke Indonesia, bukan ke negara lain, ” kata Shinta kepada CNBC Indonesia, Selasa (6/10).

Demi memuluskan target itu, pemerintah sudah membuat sejumlah daerah Industri sebagai lahan baru bagi perusahaan-perusahaan yang bakal masuk. Di antaranya adalah kawasan Industri Batang Jawa Batang. Proyeksi perusahaan yang digaet ialah terutama perusahaan Amerika Serikat yang ingin merelokasi pabriknya daripada China. Namun, belum banyak yang berinvestasi hingga membangun pabriknya.

“Saya melihat gini, dengan Covid-19 pasti target investasi nggak sebesar sebelum Covid-19. Tapi kita nggak usah melihat perbandingan pra Covid-19. Yang kita lihat tersedia yang masuk. Untuk mereka dengan masuk perlu (kejelasan) hal-hal tersebut yang sekarang diatur UU Ciptaker itu, ” katanya.

Lalu perusahaan dari bidang apa saja yang berminat masuk ke Indonesia?

“Kemarin BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) sudah mengeluarkan data bidang apa aja, ada yang dari China, Jepang, Korea. Ada yang manufacturing , apa itu elektronik apa itu juga farmasi. Oleh sebab itu memang beberapa sektor lagi tahu. Saat ini interest (investor) cukup banyak. Memang proses ini bisa berjalan mereka membandingkan dengan negara asing, ” jelas Shinta.

Di sisi lain, Presiden Pakta Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal  mengakui langkah-langkah buruh melawan omnibus law dengan mogok kegiatan membuat kondisi investasi di Nusantara jadi tak kondusif meski tersedia UU Cipta Kerja.

“… Kita sedang fokus kala aksi mogok nasional, setelah macet nasional akan ada aksi tambahan dan ini yang nggak awak inginkan, akhirnya kan jadi nggak kondusif. Banyak saya dihubungi media internasional, Investor akhirnya menunggu, kalau nggak kondusif kan percuma selalu UU Cipta kerja itu, ” jelas Iqbal.

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)