Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah daerah di Indonesia, termasuk wilayah Banten dan DKI Jakarta sudah menjadi langganan bencana alam seperti tsunami bahkan sejak ratusan tahun yang berserakan.

Mengutip catatan Catatan Tsunami Indonesia yang dibuat oleh BMKG, Selasa (29/9/2020) pada tarikh 416 pernah terjadi gempa pada selat Sunda. Dalam sebuah wacana Jawa yang berjudul Pustaka Baginda (“Book of Kings”) gempa ini yang diduga sebagai gunung api Krakatau kuno.

Kitab Jawa yang berjudul “Book of Kings” (Pustaka Radja), mencatat adanya beberapa kali erupsi dari Bukit Kapi yang menyebabkan naiknya aliran laut dan menggenangi daratan hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Gunung Kapi ini dipercaya sebagai Gunung api Krakatau saat ini.


Kedua merupakan gempa yang terjadi pada 24 Agustus 1757 dengan kekuatan tujuh, 5 SR. Catatan pengamatan untuk kejadian ini, selama terjadi gempa, permukaan air sungai Ciliwung terangkat hingga di atas 0, 5 meter dari kondisi normal.

Kemudian gempa juga sempat terjadi di 18 Maret 1863 yang pula berasal dari Laut Jawa. 20 Tahun kemudian, tepatnya pada 26 Agustus 1883, kembali terjadi gempa di selat Sunda. Gunung Krakatau Meletus. Pemukiman tersapu gelombang. Tercatat 36 ribu orang tewas. Setidaknya 297 desa mengalami kerusakan.

Memasuki tahun 1900-an tepatnya pada 17 Maret 1930, gempa kembali melanda. Kejadian pada jam 13. 07 WIB ini selalu terjadi di Selat Sunda secara. Berselang 33 tahun kemudian, tepatnya pada 16 Desember 1963, gempa berkekuatan 6, 5 SR kembali mengguncang Banten. Di wilayah Labuan, dilaporkan adanya tsunami kecil.

Kemudian pada 22 Desember 2018, berlaku gempa di Gunung Anak Krakatau. Badan Informasi Geospasial) mencatat akibat kejadian ini sempat terjadi gelombang tsunami di beberapa wilayah yaitu Marina Jambu, Ciwandan, Kota Istimewa dan Pelabuhan Panjang di Dalang Lampung.

Akibat peristiwa ini, tercatat korban Meninggal sebesar 431 orang, Korban luka-luka 7, 200 orang, Korban hilang 15 orang dan Korban mengungsi 46, 646 orang.

Terpaut dengan Tsunami, baru-baru ini sejumlah peneliti Indonesia kembali memperbarui pengkajian tsunami akibat gempa bumi mulia yang terjadi di zona megathrust. Sejumlah wilayah termasuk Pulau Jawa bagian selatan berpotensi terkena tsunami hingga ketinggian 20 meter

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang mengangkat dalam penelitian tersebut menyatakan tidak perlu panik terhadap wacana tersebut. BMKG menegaskan bahwa sebuah pengkajian gempa bumi dan tsunami pada Indonesia dilakukan untuk mendukung penguatan sistem mitigasi bencana, sehingga mampu mencegah dampaknya terutama jatuhnya target jiwa.

“Potensi terjadinya tsunami dengan ketinggian sekitar 20 meter, dalam waktu 20 menit gelombang tiba di pantai sejak terjadinya gempa. Penelitian tersebut jarang lain dilakukan oleh Widjo Kongko (2018), Ron Harris (2017 berantakan 2019), dan yang terakhir oleh tim lintas lembaga yang dipimpin oleh ITB dan didukung sebab BMKG, ” ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)